Begitu banyak grup band telah lahir dan berkarya di Indonesia. Namun, bagi penulis, secara pribadi hanya ada satu band yang pantas namanya dimunculkan pertama kali menjadi top of mind, yaitu Slank. Penulis adalah seorang penggemar Slank, istilahnya Slankers, tetapi dalam tulisan ini, penulis akan mengesampingkan fakta bahwa penulis adalah penggemar Slank semata-mata agar tulisan ini menjadi sebuah karya yang objektif.
Dilihat dan ditilik dari ilmu marketing, Slank adalah sebuah band yang lengkap dan secara tidak sadar mereka telah menerapkan teori-teori pemasaran yang selama ini tertulis di buku-buku. Sayangnya, belum banyak buku marketing yang mengupas tuntas mengenai strategi pemasaran para musisi dalam industri musik, khususnya di dalam negeri. Padahal, industri musik dari dulu hingga sekarang telah melahirkan bintang dan pahlawan di eranya masing-masing. Baiklah, mudah-mudahan beberapa ratus atau ribu kata yang akan penulis uraikan selanjutnya dapat membuka jalan dan pikiran kita mengenai music marketing.
Slank adalah salah satu band senior Indonesia, telah berumur 25 tahun. Slank dirintis oleh Bimbim, sang drummer, dalam perjalanannya sering terjadi bongkar pasang personel, sampai akhirnya mereka menemukan formasi yang kini bertahan lebih dari 5 tahun yaitu, Akhadi Wira Satriaji (Kaka-vokal), Abdee Negara (Abdee-gitar), Ridho Hafidz (Ridho-gitar), Ivanka Kurniawan (Ivan-bass), dan Bimo Almachzumi Sidharta (Bimbim-drum).
Perlu penulis ingatkan bahwa konsistensi Slank juga menjadi kunci sukses mereka dalam memasarkan musik dan figur mereka.
Lagu-lagu Slank yang liriknya lugas, slengean (dari situ mereka mendapatkan nama “Slank”), kadang-kadang menyindir kondisi politik negeri atau pertentangan anak dan orang tua, serta anti kemapanan berhasil menyihir jutaan anak muda di republik ini yang sedang diliputi kegelisahan mencari jati diri dan memerlukan sesosok idola untuk mereka. Anak-anak muda ini akhirnya menambatkan rasa dahaga mereka akan seorang idola pada Slank, hingga akhirnya mereka menamakan diri Slankers. Sebagai tambahan informasi, Slankers adalah basis penggemar yang amat terorganisir, di setiap provinsi di Indonesia, mereka membentuk semacam kantor cabang Slankers. Tidak hanya itu, para Slankers juga memiliki kartu identitas yang menandakan bahwa mereka adalah seorang Slankers.
Inilah yang disebut oleh Guy Kawasaki sebagai “make your product an evangelist”, yang kurang lebih berarti “buatlah produk Anda menjadi agama untuk konsumen”. Slank telah melakukan hal ini dengan sangat baik sekali. Anda dapat bayangkan betapa sesak dan penuhnya konser Slank di belahan Indonesia manapun, dipenuhi oleh para Slankers. Mungkin andaikan ada dua kolom agama di KTP, maka para Slankers mungkin akan mengisi salah satu kolom agama tersebut dengan kata Slank.
Slank pernah mengalami masa kelam dalam perjalanan karier mereka ketika mereka terjerat narkotika. Tetapi justru setelah mereka bebas dari narkotika, grafik karier Slank justru menanjak. Mungkin ini yang dinamakan blessing in disguise. Penulis berpikir andaikan Slank tidak menjadi pengguna narkotika, mereka tidak akan dapat sebesar sekarang.
Dengan mereka dapat terbebas dari jerat narkotika dan mereka juga bersumpah akan berperang melawan narkotika, mereka telah membentuk positioning yang sangat cantik. Mereka sudah menjadi idola yang sempurna, terkenal, dipuja bak dewa, bersih dari narkotika tetapi tetap bisa bergaya dan berjiwa rocker. Sangat mungkin sekali dengan Slank dapat terbebas dari narkotika, banyak orang tua yang merasa aman apabila anaknya menjadi seorang Slankers, apalagi Slank tidak lepas dari sosok Bunda Iffet, sang manajer, yang menjadi simbol bahwa orang tua dan anak dapat tetap rukun, kendati sang anak pernah melakukan suatu hal yang menyakiti hati orang tua.
Analisis 4P
Dari aspek product, Slank adalah sebuah grup band dengan dedikasi yang tidak perlu diragukan lagi terhadap dunia musik Indonesia dan memiliki skill bermusik yang tinggi, serta memiliki lagu-lagu yang ear-catching. Kemudian, Slank memiliki sebuah headquarter atau base camp di mana mereka dan penggemar seluruh Indonesia dapat berkunjung, berkumpul, bahkan menginap di Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Gang Potlot inilah yang menjadi salah satu pengikat antara Slank dan penggemarnya, karena para Slankers dapat menganggap Gang Potlot sebagai rumah kedua mereka.
Banyak yang tidak menyadari bahwa Slank adalah sebuah grup band indie. Mereka hanya menggandeng Virgo Ramayana Records sebagai distributor album. Slank menyadari posisi mereka sebagai grup indie dan memahami demografi penggemar mereka, sehingga Slank membanderol harga album mereka yang asli, cukup miring dari album-album lainnya, terutama yang keluaran major label. Sementara, promosi album Slank tidak membutuhkan usaha promosi gencar karena mereka telah memiliki penggemar fanatik yang siap membeli album mereka. Penulis pernah membaca sebuah artikel di majalah Gatra sekitar tahun 2000-an, bahwa jumlah Slankers adalah 10% dari jumlah penduduk Indonesia. Jadi, andaikan jumlah penduduk Indonesia adalah 200 juta jiwa, maka hitungan kasar menunjukkan bahwa jumlah Slankers berjumlah sekitar 20 juta jiwa. Sayangnya, Slank tidak pernah disebut-sebut sebagai band yang berhasil menjual jutaan copy.
Value Slank
Fungsi marketing pada akhirnya adalah untuk menyampaikan value dari produsen kepada konsumen. Slank dapat menyampaikan value yang mereka miliki dengan baik. Tentu kita masih ingat dengan jargon mereka “Peace”. Slank selalu berusaha menebarkan perdamaian di manapun mereka berada. Seorang Slankers sejati tidak akan membuat kerusuhan di konser Slank. Apabila terlihat tanda-tanda bahwa akan terjadi kerusuhan di konser, Slank akan menghentikan permainan mereka dan Kaka, sang vokalis, akan menghimbau agar penonton berhenti berkelahi, apabila penonton tidak mau berhenti berkelahi, Slank akan benar-benar berhenti bermain dan turun dari panggung. Namun bagi Slankers, menonton Slank alias dewa mereka adalah segala-galanya (seperti naik haji bagi umat Islam), sehingga mereka akan menaati apa yang dikatakan oleh idolanya. Belakangan, jargon mereka bertambah panjang menjadi PLUR (Peace, Love, Unity, Respect), Slank siap menjadi jenderal penebar perdamaian, cinta kasih, dan persatuan melalui musik-musik yang mereka usung.
Value tersebut yang akhirnya membedakan Slank dengan band-band lainnya. Slank adalah band yang memiliki sikap, tidak hanya menjual lagu-lagu yang bagus dan skill bermusik yang mumpuni.
Pada akhirnya, segala hal yang telah penulis paparkan di atas tadi bermuara kepada satu simpul yaitu, segala upaya Slank tersebut telah berhasil membentuk customer loyalty. Seperti kata pepatah dalam dunia marketing bahwa konsumen adalah marketer terhebat. Maka tentunya tidak berlebihan apabila penulis menjuluki Slank sebagai music marketing guru yang patut ditiru kiprahnya oleh musisi-musisi lain di Indonesia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar