Selasa, 17 Februari 2009

Humor-humor Nyata di Jakarta

Semua cerita-cerita di bawah ini bersumber dari Kaskus.... Enjoy!!!


Duh, bikin puswing kamu!
Cheerleader #1: (menyanyi sendiri) "Swing, swing, swing, swing..."
Cheerleader #2: "Lho itu lagu bukannya kata-katanya 'Dreams' ya?"
Cheerleader #1: "Oh iyah, yah? Kalo 'Swing' itu yang ada di Softex ya?"
(SMA ternama Jakarta, didengar oleh pelatih yang merasa gagal mendidik.)

Saya baru bisa keluar 3 tahun lagi...
Bapak pengemudi bayar parkir: "Kok loketnya dikasih kerangkeng sih mbak?"
Petugas parkir: "Biar saya nggak kabur..."
(Sebuah mall di BSD, didengar oleh keponakan yang mengurungkan niatnya
untuk bekerja di Jakarta .)

Bis sekarang teladan...
Cewe baru belajar nyetir: "Gua itu paling males nyetir di belakang
bis, tau sendiri kan bis suka ontime nunggu penumpang... "
(Kelapa Gading, didengar oleh saudara yang malas menjelaskan perbedaan
besar "ontime" dan "ngetem".)

Ini salah jari atau otak ya?
Lelaki sibuk di handphone: "Halo X, gua telepon ke nomor satunya ya
(tutup) Halo... (mulai ngomong panjang lebar)... Lho? Ini siapa? Oh
sorry, salah sambung! (memencet nomor lagi) Halo Y, loe gimana sih,
ngasih nomer X ke gua kok salah sih! Gimana sih loe? (diam sesaat)
Lho? Ini bukan Y ya? Sorry salah sambung..."
(Bank Swasta Pondok Indah, didengar oleh istri yang langsung tambah
asik membaca email di BlackBerry-nya. )

Itu beda lho...
Pengunjung: "Mbak, Coke-nya satu ya, pake es..."
Pelayan: "Maaf Mbak, Coke-nya gak ada, adanya Diet Coke."
Pengunjung: (Menunjuk menu) "Terus ini apa, Coca-Cola... Kok dibilang gak
ada?"
Pelayan: "Kalau Coca-Cola ada, Mbak..."
Pengunjung: "Huh!"
(Cafe di FX, didengar oleh satu meja yang bersepakat menyuruh pelayan
training ulang.)

Wah, udah lama gak merhatiin dia...
Ibu mengejek anak kecil bersepeda: "Ih, lihat tuh, badan segede gitu
kok masa naik sepeda sekecil itu, hahaha... (sesaat kemudian)... Lah,
itu anakku!"
(Perumahan di Jakarta, didengar oleh teman yang langsung terbahak-bahak. )

Ya namanya juga bajakan...
Saat nonton DVD,
Calon mahasiswa S1 FasilKom: "Oi itu jangan lupa kemsyen-nya. ."
Teman #1: "Kemsyen apaan sih?"
Calon mahasiswa S1 FasilKom: "Itu kemsyen... kemsyen, masa gitu aja ga tau
sih?"
Teman #2: (mencari fasilitas "kemsyen" di menu) "Gak ada ah..."
Calon mahasiswa S1 FasilKom: "Itu lho, kemsyen en subtitiles.. ."
(Apartemen daerah Kemanggisan, didengar oleh semua teman yang ingin
mengumpulkan dana buat les bahasa inggris.)

AC/DC gityuuu looooh...
Ketua Panitia: "Naahh.. pin yang ini desainnya bagus nih. Bisa buat
cewek dan cowok. Biseks gitu!"
(Rapat Buka Bersama, didengar oleh sepasukan panitia yang merasa si
ketua terlalu banyak nonton porno.)

Yang enak tuh lambaaaat dan merata.

Dua cewe sedang berbagi resep,
Cewe #1: "Emang kalo cepet-cepet jadinya gak enak, ya?"
Cewe #2: "Iya, ngocoknya mesti rata makanya."
(Didengar oleh seseorang yang langsung berharap jadi adonan.)

Buah simalakama.. .
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "De, pegangin setirnya. Mama mau
garuk pantat!"
Anak laki-laki berusia 18 tahun: "Ah, Mama! Gak mau ah!"
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "Kamu mendingan megangin setir apa
garukin pantat Mama?"
(Tol Jagorawi, didengar anak perempuan di belakang yang ingin melompat
keluar mobil.)

Maksudnya dia suka aku, Ma?
Seorang ibu kepada anaknya: "Sst! Jangan nangis! Ntar kamu ditembak
pak satpam lho!"
(Pertokoan di Jakarta, didengar oleh seseorang yang percaya kekerasan
tidak akan menyelesaikan masalah.)

Lengkap banget deh...
Pelayan: "Minumnya, mbak?"
Teman #1: "Teh tawar anget"
Teman #2: "Saya... Teh manis anget"
Pelayan: "Hot tea... dan sweet ice tea hot" (tampang pede dan nyatet)
(Sebuah resto di Plasa Senayan, didengar oleh 2 orang teman yang
mesem-mesem dan segera membenarkan ucapan pelayan tersebut.)

Untung dia bukan penjaga Quality Control...
Anak kecil di telepon: "Halo... oh mas X sialan!... iya, dia kan penyial...
(Didengar oleh seseorang yang hampir membanting handphone-nya. )

Jadi selama ini masih ada yang lain?
Ibu menasehati anak perempuan semata wayang: "Nduk, waktu ibu punya
anak perempuan seusiamu..."
(Didengar oleh kakak lelaki yang langsung berpikir apakah dia punya
saudara kandung lain.)

Sehat bener ya, jaringannya. ..
Programmer 1: "Kemaren internet gua udah onlen, cuy"
Programmer 2: "Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu
nonton serial di tipi!"
Coordinator: "Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang
internet bearbrand... "
(Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan. )

Emangnya gua badak?
Cewe mau ikut kursus: "Mbak, kalo disini ada kelas conservation gak?"
(Didengar oleh Student Advisor yang berasa di LSM.)

Saya menghormati sejarah...
Account Executive: "Baik, kalau begitu kita meeting lagi Senin tanggal
20..."
Klien Besar: "Tanggal 20 itu hari Sabtu. Kita meeting Senin tanggal 22."
Account Executive: "Tapi tanggal 22 itu hari Rabu. (diam sesaat) Ups,
my mistake, ini kalender tahun lalu."
(Didengar oleh semua kolega yang ingin membungkus AE itu dan
mengirimnya ke Timbuktu .)

I'm not worthy, I'm not worthy...
Klien Besar: "Ya sudah, besok kita meeting lagi ya..."
Account Executive: "Wah, bu, besok tidak bisa, kami ada janji dengan
klien lain."
Klien Besar: (memandang sinis) "I am not your client... I am your god."
(Perkantoran di Gatot Subroto, didengar oleh seluruh tim agensi yang
langsung menyatu dengan kursi masing-masing. )

Kami perlu yang representatif. ..
Brand Manager: "Hmmm, bagus, visual-nya bagus. Sayang copywriternya jelek."
Copywriter: "MAKSUD LOE?"
(Didengar oleh Creative Director yang langsung menawarkan mengganti
copywriter sambil terbahak.)

Yang pasti bisa buat nyelem...
Lelaki di toko kacamata: "Yang itu dong, Mbak... Liat..."
Pramuniaga: "Nah yang ini keren, Mas... Bahannya juga bagus, Titanic..."
(Optik di Mangga Dua, didengar oleh pengunjung yang ingin mendorong
pramuniaga ke laut.)

Makanannya seru deh!
Cowo: "Kemaren gua sama cewe gua buka puasa di PS 2..."
(Didengar oleh semua teman yang merasa cowo itu terlalu banyak main game.)

Jaman susah sih...
Pada saat telepon gratis dua detik pertama,
Cowo Hemat: "Kamu dimana? (tutup) Apa? (tutup) Pulang... (tutup)
PULANG! (tutup) Aku bilang kamu pula... Ah, goblok lebih dari dua
detik!" (tutup)
(Didengar oleh teman yang ingin merebut dan merebus handphone itu.)

Jangan terlalu mateng ya!
Pria duduk dan langsung berteriak memesan: "Mas, Ovaltine bakar satu!"
(Warung Tenda Jakarta, didengar oleh seseorang yang hampir jatuh dari
kursinya.)

Yang horisontal kalau bisa!
Di sebuah restoran,
Teman #1: "Eh udahan yuk, kite cabs.."
Teman #2: "Gua aja yang panggilin.. Mas! Billboardnya ya!
(Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan
dengan pelayannya)

Menurut sejarah, gak baik loncat-loncat. ..
Ditengah sebuah konser,
Wanita Bingung: "Waduh... Minggir, minggir, kacamata saya jatuh...
Awas jangan diinjak!"
Lelaki Baik: "Kenapa mbak, kenapa?"
Wanita Bingung: "Ini mas, kacamata saya jatuh, duh gimana ya?"
Lelaki Baik: "Sini saya bantu cariin. Wah si mbak nih, makanya
lompatnya pelan-pelan, jangan terlalu histori..."
Wanita Bingung: "Histori?"
(Senayan, didengar oleh penonton lain yang tiba-tiba tidak bisa loncat
lagi.)

Kalo nyapa yang bener dong... HUH!
Penjaga Toko: "Silahkan kak, Giordano..."
Lelaki Gemulai Nan Jutek: (Menatap sinis) "Sorry! Nama gua bukan Giordano!"
(EX, didengar oleh teman-temannya yang langsung berteriak "Apaan sih
tcooooong!")

Ini yang salah ngerti siapa ya?
Pria: "Mbak, pesen es teh manis..."
Pelayan: "Es-nya habis mas..."
Pria: "Ya udah, es teh tawar..."
Pelayan: "Iya, mas..."
(Restoran di Jakarta, didengar oleh pengunjung lain yang berpikir cara
buat es...)

Ternyata bukan dongeng anak...
Istri: "Itu loh, yang badannya pendek-pendek. .."
Suami: "Apaan?"
Istri: "Yang tokoh fairy tale..."
Suami: "Ha, yang mana sih?"
Istri: "Yang punya jenggot..."
Suami: "Yang mana sih...?"
Istri: "Itu lho, yang Snow White dan 7 Mucikari!"
(Didengar oleh teman yang hampir berguling-guling. )

Maksud gua buat naruh barang!
Mahasiswa S2 mengomel: "Heran gua, hotel sebesar ini gak ada ballroom-nya!
"
Teman: "Emang loe mau ngapain, resepsi?"
Mahasiswa S2: "Mau minta koper gua dibawain ke kamar nih!"
Teman: "Bellboy kaleeeee!"
(Hotel bintang lima di Kebon Sirih, didengar oleh semua teman gaulnya
yang memaklumi mahasiswa yang baru saja tidak lulus TOEFL.)

Eh tapi asik kali yeee...
Anak SMP #1: "Setdah, masa tadi kelasan gua selang-seling gitu duduknya..."
Anak SMP #2: "Ya elah, kesian bet kelas luh!"
Anak SMP #1: "Iye, ntar bukannye belajar, malah pade bercinta!"
(Angkot di pinggiran Jakarta, didengar oleh penumpang yang menuduh
sinetron sebagai sumber kebodohan bangsa.)

Gak usah pake mangkok aja!
Nyonya: "Mbak, tolong beliin bakso di ujung jalan sana ya, beli empat
bungkus, dua campur pake mie, dua baksonya aja..."
PRT Baru: "Yang baksonya aja pake kuah gak, bu?"
(Jakarta, didengar oleh seseorang yang tertawa gila-gilaan. )

Dulu di percetakan ya, mas?
Penjaga Parkir: "Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar
nih, besok diperpanjang ya."
(Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada
tulisan EXP di stikernya.)

Pengetahuanmu luas, nak...
Mahasiswa #1: "Eh, lo demen Mocca gak?"
Mahasiswa #2: (berpikir sebentar) "Halal gak?"
Mahasiswa #1: "Ya elah, bukan mocca minuman, tapi Mocca band!"
Mahasiswa #2: (dengan begitu PD) "Ah, kalo band-band luar negeri gitu
gua nggak demen..."
(Jakarta, didengar oleh seseorang yang memejamkan mata dan berteriak
dalam hati.)

Belum, lagi jelek koneksinya.
Researcher: "Eh pensil gua kemana ya?"
Researcher Khusyuk Internetan: "Kenapa loe?"
Researcher: "Pensil gua ilang! Loe tau gak dimana? Udah gua cari
kemana-mana nih! Mana sih ya?
Researcher Khusyuk Internetan: "Udah loe cari di google belum?"
(R&D Jakarta, didengar oleh satu divisi yang merasa salah satu dari
mereka kena penyakit internetan akut.)

Kalo bisa yang triple L!
Ibu #1: "Saya yang well-done ya."
Pelayan: "Baik, bu. (Ke ibu lainnya) Ibu steaknya mau gimana?"
Ibu #2: "Maksudnya mas?"
Pelayan: "Mau yang medium atau..."
Ibu #2: (Memotong dengan mantap) "Ooooh, saya yang large aja, mas!"
(Restoran Steak di Jakarta Selatan, didengar oleh ibu lain yang merasa
harus membenahi make-up tiba-tiba.)

Makanya perhatian dong!
Si Pemimpi: "Gua pengen bikin bagasi gua jadi home theater deh."
Si Serius: "Hah, gimana caranya?"
Si Pemimpi: "Ya nanti gua mau tambahin (mulai penjelasan teknis)."
Si Serius: "Home theater portabel gitu?"
Si Pemimpi: "Ya nggak lah, gimana caranya loe bawa-bawa bagasi?"
Si Serius: "Ya ditenteng gitu? Eh, maksud loe bagasi apa nih?"
Si Pemimpi: "Ya itulah! Yang tempat parkir mobil... Masa loe gak tau sih?"
Si Serius: "Euh, itu kayaknya garasi kali!"
(Reuni alumni di Jakarta, didengar oleh seseorang yang langsung harus
ke kamar kecil.)

Ah, jangan buka rahasia dong...
Tukang Sate: "Masnya apa nih?"
Mahasiswa Tegas: "Gua kambing! (ke temannya) Loe?"
Mahasiswa gemulai: "Aku ayam..."
(Pondok Sate di Jakarta Barat, didengar oleh mahasiswi yang merasa
mendengar pengakuan.)

Yang penting kan tata krama!
Pembeli Santun ke Penjual Sop Kaki: "Daging tiga sama kaki dua, udah
itu aja. Eh, kakinya yang kanan ya!" (Semua pengunjung tertegun)
Penjual Sop Kaki: "Mmmm, kenapa harus yang kanan, Pak?"
Pembeli Santun: "Yaaa, biar lebih sopan aja... Kakinya yang kanan gituuu!"
(Tenda Sop Kaki Kambing di Tebet, didengar semua pengunjung yang
hampir tersedak.)

Otomatis ya, mbak?
Kasir: "Mau order apa, mas?"
Pembeli: "Coca-Cola large satu, sama french fries satu... Itu aja, mbak."
Kasir: "Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large
satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?"
(Restoran fastfood di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa
dicekokin.)

Abis Bapak selalu pengen gabungin semua alternatif sih!
Account Director ke klien: "Tapi pak hal itu sulat dilakukan! (hening)
Euh, saya mau milih antara sulit dan sukar malah keluar dua-duanya."
(Kantor di Gatot Subroto, didengar oleh kolega yang diam-diam melipir.)

Ini pasti artinya tentang teknologi...
Webmaster: "Gile, website bikinan orang-orang latin keren banget yah!"
Webdesigner: "Hah, tau dari mana loe itu buatan orang latin?"
Webmaster: "Itu ada tulisannya: Lorem ipsum dolor sit amet,
consectetur adipisicing elit..."
(Sebuah kantor di Palmerah, didengar oleh webdeveloper yang langsung
ngakak tak terkendali.)

Saya kan gak pernah ngerti dunia itu!
Pejabat: "Selamat sore, hari ini adalah hari yang bahagia karena kita
menjadi tuan rumah untuk event internasional yaitu Festival Seni
Koremponter. ..."
(Seluruh hadirin tertawa)
Pejabat: "Maksud saya Korentomper. .."
Tamu Gemas: "Kontemporer, pak!"
Pejabat: "Ya harap maklum, saya kan bukan seniman!"
(Galeri Nasional Jakarta, didengar oleh hadirin yang langsung
mengeluarkan palu dan pahat.)

Ini tindak lanjut yang penuh cinta!
Reporter: "Pak, bagaimana perkembangan kasus korupsi X, apakah ada
tindak lanjut dari instansi bapak, seperti pemberian sanksi ?"
Pejabat: "Sejauh ini masih kita pantau dulu, hal ini sedang
dibicarakan bagaimana2nya"
Reporter: "Apakah justru ini melibatkan orang dalam pak?"
Pejabat: "Loh, anda tidak boleh sembarangan begitu... Kita harus lihat
situasi ini kiss per kiss nya..."
Reporter: "Maksud bapak case by case ?"
Pejabat: (malu) "Iyalah gitu."
(Kantor Kepemerintahan, didengar oleh kameraman yang menutup mulutnya
takut dicium...)

Kan lulusan S3 Ilmu Angkotan!
Pengendara Motor Gak Sabar: "Maju dong! Dasar Bego!"
Supir Angkot Intelektual: "Kalo gua bego, gua gak bakal jadi supir angkot
tau!"
(Di bawah flyover Depok, didengar oleh penumpang angkot yang tiba-tiba
mempertanyakan pendidikan yang dia jalani selama ini.)

Gak mau tawar aja?
Mahasiswa Genit ke penjual kantin yang cantik: "Mau es teh... manis."
(Kantin kampus Jakarta, didengar oleh teman yang tiba-tiba sok belajar
buat UAS.)

Si Pitung ada gak, Beh?
Penonton Berisik: "Naaah, nyang itu no Neo namenye, si Neo, Neo..."
Adegan di Layar: "Hello, Mr. Anderson..."
Penonton Berisik: ""Eh bukan ding, bukan Neo... itu Mr. Anderson namanya!"
(Bioskop pinggiran Jakarta Timur, didengar oleh penonton di depan yang
memilih antara tertawa atau melempar popcorn.)

Senin, 16 Februari 2009

Slank, Music Marketing Guru

Begitu banyak grup band telah lahir dan berkarya di Indonesia. Namun, bagi penulis, secara pribadi hanya ada satu band yang pantas namanya dimunculkan pertama kali menjadi top of mind, yaitu Slank. Penulis adalah seorang penggemar Slank, istilahnya Slankers, tetapi dalam tulisan ini, penulis akan mengesampingkan fakta bahwa penulis adalah penggemar Slank semata-mata agar tulisan ini menjadi sebuah karya yang objektif.
Dilihat dan ditilik dari ilmu marketing, Slank adalah sebuah band yang lengkap dan secara tidak sadar mereka telah menerapkan teori-teori pemasaran yang selama ini tertulis di buku-buku. Sayangnya, belum banyak buku marketing yang mengupas tuntas mengenai strategi pemasaran para musisi dalam industri musik, khususnya di dalam negeri. Padahal, industri musik dari dulu hingga sekarang telah melahirkan bintang dan pahlawan di eranya masing-masing. Baiklah, mudah-mudahan beberapa ratus atau ribu kata yang akan penulis uraikan selanjutnya dapat membuka jalan dan pikiran kita mengenai music marketing.
Slank adalah salah satu band senior Indonesia, telah berumur 25 tahun. Slank dirintis oleh Bimbim, sang drummer, dalam perjalanannya sering terjadi bongkar pasang personel, sampai akhirnya mereka menemukan formasi yang kini bertahan lebih dari 5 tahun yaitu, Akhadi Wira Satriaji (Kaka-vokal), Abdee Negara (Abdee-gitar), Ridho Hafidz (Ridho-gitar), Ivanka Kurniawan (Ivan-bass), dan Bimo Almachzumi Sidharta (Bimbim-drum).
Perlu penulis ingatkan bahwa konsistensi Slank juga menjadi kunci sukses mereka dalam memasarkan musik dan figur mereka.
Lagu-lagu Slank yang liriknya lugas, slengean (dari situ mereka mendapatkan nama “Slank”), kadang-kadang menyindir kondisi politik negeri atau pertentangan anak dan orang tua, serta anti kemapanan berhasil menyihir jutaan anak muda di republik ini yang sedang diliputi kegelisahan mencari jati diri dan memerlukan sesosok idola untuk mereka. Anak-anak muda ini akhirnya menambatkan rasa dahaga mereka akan seorang idola pada Slank, hingga akhirnya mereka menamakan diri Slankers. Sebagai tambahan informasi, Slankers adalah basis penggemar yang amat terorganisir, di setiap provinsi di Indonesia, mereka membentuk semacam kantor cabang Slankers. Tidak hanya itu, para Slankers juga memiliki kartu identitas yang menandakan bahwa mereka adalah seorang Slankers.
Inilah yang disebut oleh Guy Kawasaki sebagai “make your product an evangelist”, yang kurang lebih berarti “buatlah produk Anda menjadi agama untuk konsumen”. Slank telah melakukan hal ini dengan sangat baik sekali. Anda dapat bayangkan betapa sesak dan penuhnya konser Slank di belahan Indonesia manapun, dipenuhi oleh para Slankers. Mungkin andaikan ada dua kolom agama di KTP, maka para Slankers mungkin akan mengisi salah satu kolom agama tersebut dengan kata Slank.
Slank pernah mengalami masa kelam dalam perjalanan karier mereka ketika mereka terjerat narkotika. Tetapi justru setelah mereka bebas dari narkotika, grafik karier Slank justru menanjak. Mungkin ini yang dinamakan blessing in disguise. Penulis berpikir andaikan Slank tidak menjadi pengguna narkotika, mereka tidak akan dapat sebesar sekarang.
Dengan mereka dapat terbebas dari jerat narkotika dan mereka juga bersumpah akan berperang melawan narkotika, mereka telah membentuk positioning yang sangat cantik. Mereka sudah menjadi idola yang sempurna, terkenal, dipuja bak dewa, bersih dari narkotika tetapi tetap bisa bergaya dan berjiwa rocker. Sangat mungkin sekali dengan Slank dapat terbebas dari narkotika, banyak orang tua yang merasa aman apabila anaknya menjadi seorang Slankers, apalagi Slank tidak lepas dari sosok Bunda Iffet, sang manajer, yang menjadi simbol bahwa orang tua dan anak dapat tetap rukun, kendati sang anak pernah melakukan suatu hal yang menyakiti hati orang tua.

Analisis 4P

Dari aspek product, Slank adalah sebuah grup band dengan dedikasi yang tidak perlu diragukan lagi terhadap dunia musik Indonesia dan memiliki skill bermusik yang tinggi, serta memiliki lagu-lagu yang ear-catching. Kemudian, Slank memiliki sebuah headquarter atau base camp di mana mereka dan penggemar seluruh Indonesia dapat berkunjung, berkumpul, bahkan menginap di Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Gang Potlot inilah yang menjadi salah satu pengikat antara Slank dan penggemarnya, karena para Slankers dapat menganggap Gang Potlot sebagai rumah kedua mereka.
Banyak yang tidak menyadari bahwa Slank adalah sebuah grup band indie. Mereka hanya menggandeng Virgo Ramayana Records sebagai distributor album. Slank menyadari posisi mereka sebagai grup indie dan memahami demografi penggemar mereka, sehingga Slank membanderol harga album mereka yang asli, cukup miring dari album-album lainnya, terutama yang keluaran major label. Sementara, promosi album Slank tidak membutuhkan usaha promosi gencar karena mereka telah memiliki penggemar fanatik yang siap membeli album mereka. Penulis pernah membaca sebuah artikel di majalah Gatra sekitar tahun 2000-an, bahwa jumlah Slankers adalah 10% dari jumlah penduduk Indonesia. Jadi, andaikan jumlah penduduk Indonesia adalah 200 juta jiwa, maka hitungan kasar menunjukkan bahwa jumlah Slankers berjumlah sekitar 20 juta jiwa. Sayangnya, Slank tidak pernah disebut-sebut sebagai band yang berhasil menjual jutaan copy.


Value Slank

Fungsi marketing pada akhirnya adalah untuk menyampaikan value dari produsen kepada konsumen. Slank dapat menyampaikan value yang mereka miliki dengan baik. Tentu kita masih ingat dengan jargon mereka “Peace”. Slank selalu berusaha menebarkan perdamaian di manapun mereka berada. Seorang Slankers sejati tidak akan membuat kerusuhan di konser Slank. Apabila terlihat tanda-tanda bahwa akan terjadi kerusuhan di konser, Slank akan menghentikan permainan mereka dan Kaka, sang vokalis, akan menghimbau agar penonton berhenti berkelahi, apabila penonton tidak mau berhenti berkelahi, Slank akan benar-benar berhenti bermain dan turun dari panggung. Namun bagi Slankers, menonton Slank alias dewa mereka adalah segala-galanya (seperti naik haji bagi umat Islam), sehingga mereka akan menaati apa yang dikatakan oleh idolanya. Belakangan, jargon mereka bertambah panjang menjadi PLUR (Peace, Love, Unity, Respect), Slank siap menjadi jenderal penebar perdamaian, cinta kasih, dan persatuan melalui musik-musik yang mereka usung.
Value tersebut yang akhirnya membedakan Slank dengan band-band lainnya. Slank adalah band yang memiliki sikap, tidak hanya menjual lagu-lagu yang bagus dan skill bermusik yang mumpuni.
Pada akhirnya, segala hal yang telah penulis paparkan di atas tadi bermuara kepada satu simpul yaitu, segala upaya Slank tersebut telah berhasil membentuk customer loyalty. Seperti kata pepatah dalam dunia marketing bahwa konsumen adalah marketer terhebat. Maka tentunya tidak berlebihan apabila penulis menjuluki Slank sebagai music marketing guru yang patut ditiru kiprahnya oleh musisi-musisi lain di Indonesia.

Minggu, 15 Februari 2009

Siapa Mau Punya Istri Orang Jepang?

Ada sebuah pepatah asing yang mengatakan, "The wonderful life if you have American job, Germany car, and Japanese wife".

Loh, apa maksudnya hidup seorang laki-laki akan indah kalo punya istri orang Jepang? Nah, di sini gw akan memaparkan sedikit pendekatan kultur atau budaya yang akan menjelaskan hal tersebut.

Dalam budaya Jepang (walaupun negaranya udah maju), perempuan itu masih dianggap di bawah laki-laki, baik ketika wanita itu masih lajang atau yang sudah menikah. Karena budaya itulah, terkadang pria Jepang sering berbuat kasar sama wanita Jepang. Teman gw pernah cerita, dia pernah liat beberapa cowok-cewek Jepang lagi duduk-duduk di tangga, ngobrol-ngobrol, sambil becanda. Dan kemudian, sebuah pemandangan aneh (untuk ukuran cowok-cowok di Indonesia) terjadi. Mereka becanda sampe seorang cowok Jepang tersebut menendang salah seorang cewek ampe jatuh tersujud (untung mereka duduk di anak tangga yang gak begitu tinggi), dan itu cewek ketawa-tawa aja, padahal buat kita itu udh kasar bgt. Nah, itu bentuk kepatuhan wanita Jepang terhadap pria.

Kemudian, seks itu sudah menjadi budaya yang lumrah di Jepang. Makanya gak heran dong, di Jepang pornografi itu legal (walaupun bagian alat vital wanitanya disensor). Kalo saya sukanya Maria Ozawa a.k.a Miyabi (divanya JAV, walaupun sekarang di Jepang sendiri lagi redup pamornya) dan Kirara Asuka.

Kalo kalian, cowok-cowok, ada yang baru kenalan sama seorang wanita Jepang, dan langsung mengajak bercinta (check-in, ngamar, ML, dan sejenisnya), wanita Jepang tersebut pasti akan mengiyakan. Lebih hebat lagi, kalo wanita itu udh punya pacar, dia pasti akan izin sama pacarnya boleh gak bercinta sama laki-laki itu, dan pacarnya pasti akan mengiyakan. Gak usah heran, di Jepang hal tersebut adalah hal yang lumrah dilakukan. Beberapa dari kalian mungkin akan menganggap cewek Jepang murahan ya, tapi buat mereka yang masih memegang teguh budayanya, itu adalah hal biasa dan gak patut dipersalahkan.

Nah, kalo baru kenalan aja, mau diajak bercinta walaupun cewek itu udah punya pacar, gimana kalo sampai punya istri orang Jepang? Waduh, pasti full service tuh.....
So, gimana? Siapa yang mau punya istri orang Jepang?

Hari Minggu Yang Terampas!!

Biasanya, hari Minggu adalah hari yang paling gw tunggu-tunggu karena gw bisa nonton film kartun puas banget dari pagi sampe siang lah.... Kebiasaan yang gak pernah berubah dari sejak gw balita sampe sekarang gw umurnya jalan 20 tahun (sedang lucu-lucunya loh....).

Gw inget banget dulu waktu gw masih kecil, sekitar kelas 1 atau 2 SD, bela-belain hari Minggu bangun jam 5 pagi cuma buat nonton Saint Seiya di RCTI, terus berlanjut ada kartun "Ninja Bayang-bayang Merah" (gw sampe punya kaosnya tuh), lanjut jam 8 ada Doraemon (dari dulu sampe sekarang, jamnya tetap jam 8, gw selalu mantengin robot kucing yang gak pernah lekang dimakan zaman itu). Yang paling memorable sih Power Ranger jam 9, saking cintanya gw punya komplit segala merchandise-nya dan bela-belain ngerekam Power Ranger di TV pake video VHS biar nanti bisa ditonton lagi, hehehe.... Trus berganti-ganti lah film kartun bertahun-tahun kemudian, terutama di RCTI, ada Tom & Jerry (kalo ini awalnya gw kenal mereka dari VHS, kemudian pas diputer di TV gw udh gak asing lagi), Ninja Hattori, P-Man, Chibi Maruko Chan, Crayon Shinchan, trus di Indosiar ada Dragon Ball dan Detektif Conan. Kalo di TPI biasanya gw nonton Casper jam 07.30. Hmmm.... apa lagi ya? Gw agak-agak lupa nih, mungkin teman-teman bisa bantuin yang ada di stasiun TV lain?

Tetapi, gw sangat sedih beberapa tahun belakangan ini karena hari Minggu gw dirampas!!!! Gw hanya dapat memiliki hari Minggu gw selama kurang lebih 1.5 jam aja (dari jam 07.30-09.00). Padahal biasanya gw bisa nonton kartun, at least dari jam 06.30 sampe jam 11.00 (4.5 jam). Siapa sih yang berani merampas hari Minggu gw tercinta?

Jawabannya gak lain dan gak bukan adalah mereka (musuh terbesar gw yang telah merampas hari Minggu gw) :

1. FTV-FTV ABG sampah, yang ceritanya jayus banget. Yang produsernya seorang sekuter (selebritis kurang terkenal) yang kuliah di Kelas Internasional FEUI, cewek yang toketnya gede itu... siapa namanya itu, gw lupa. Gak penting juga buat nyebut namanya....

2. IKLAN-IKLAN PROPERTI yang biasa dipandu oleh Feny Rose "Silet". Iklan-iklan properti yang biasa mengiklankan kompleks perumahan atau apartemen, umumnya di region Jakarta Barat, Jakarta Utara, atau daerah Serpong. Awalnya gw gak sebenci ini, karena gw pikir, "Oh mungkin cuma lagi promosi sesaat doang....".... Jah... tapi lama-lama kok jadi ada di tiap hari Minggu gini? Udah gitu, mana enteng banget ngomong, "Ayo buruan beli, hanya 500 juta, persediaan terbatas, harga naik tanggal ..... (biasanya tanggalnya adalah hari Senin besoknya)..." Dikira beli rumah/apartemen kayak beli kutang kali ya???


Coy, kayaknya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu menyemprit tayangan-tayangan iklan properti ini deh.... Bukan hanya karena alasan subjektif gw semata, tapi rasanya gak pantas lah iklan-iklan seperti itu dipasang rutin tiap akhir Minggu di mana setiap keluarga lagi pada ngumpul di rumahnya masing-masing, karena gw pikir bisa menimbulkan kecemburuan sosial juga ya, di saat banyak keluarga yang masih susah makan dan rumahnya masih nyewa/ngontrak tapi iklan-iklan yang menonjolkan kemewahan tersebut boleh berlalu-lalang tiap Minggu di ruang keluarga kita.

Gw pun gak tau apa yang ada di otaknya KPI. Kenapa mereka malah membiarkan tayangan-tayangan sinetron yang mempertontonkan kekerasan secara frontal dan menjual mimpi alias kemewahan? Dan malah galak sama acara-acara hiburan yang mengandung unsur komedi, seperti Empat Mata atau Extravaganza misalnya... Atau Kak Seto yang juga banci tampil waktu itu pernah berusaha melarang penayangan Naruto (correct me if I'm wrong).... Lah.......semua anak-anak mau disuruh nonton Si Komo semua kali ya? Kalau punya orang tua yang syukurnya berkecukupan mungkin bisa ya, mereka pasang TV kabel atau Indovision sehingga bisa nangkep acara anak-anak dan keluarga yang bagus dan edukatif, tapi kan sayangnya gak semua keluarga Indonesia bisa berbuat hal itu.

Kapan nih stasiun TV di Indonesia menjadi stasiun TV yang "ramah anak"?